Kamis, 27 Desember 2012

the last misty December.



Just counting days, the new year will come. 
I am here dunno should be happy or not.
This year is very different than two years ago or at least one year ago.
2 years ago, i am very happy i can prepared everything to celebrate new year holidays with him.
New year 2 years ago had become opium for me. The feeling. When i'm with him.
On december 26th, i supposed to be preparing everything to go to jakarta to pass through a holiday and the new year eve with him. But this year? that all no longer exist.
No jakarta or him.
This year there were only me a-l-o-n-e.
Wait, i forgot ...
Two years ago. actually, we were never celebrate new year eve together. When we were in relationship, you pass new year eve with your family. Do you remember? we in the same city and in the afternoon we still together. But we never got through new years eve together. And last year. When we had broke up, you are celebrating the new year with your friend and your family. while I celebrated with kak jidi and her friends. Although in the afternoon we are together. yes, we're still going to pim like previous years. The difference, there no more XXI, and eating crepes.

Going through old memories brings back old feelings. Too many feelings to even begin to understand whats going on, or how to feel, or what to think. It’s like you spent the last 1year pretending to be numb but now your crying because you know you can still feel it, but you don’t want to. But no, I do. I do? You’re an egotistical stubbern asshole

but
everything about you is beautifully etched in my mind, body, soul, HEART.

so long i was tried to fix everything.
so long i was ingulf raw my ego.
But what i got? nothing. Did you return? no.
I know exactly, i was made him can't stay and surrender.
And i know 
there're no guarantees, someone would come back again after we broken they heart so deep. Eventhough they were still(exceedingly)love.

Happy new year, everyone. I hope our personal would be better in the future.
no more pain, no more heartache and dissappoinment. 
New year, new day, new record, new story, new life, and maybe new love. 
Goodbye 2012, Welcome 2013, please be amazing year.
xxx

Senin, 10 Desember 2012

thinking before speaking


today, one of my classmate cursed to my other friend because she wasn't given the answer when we had Arabic exam. although she always like that to me. how pathetic, what a shame!
I was raised to treat others the way I’d want to be treated. Growing up, I learned that not everyone is going to like you. But, not everyone will hate you either. Not everyone does this… but honestly, I feel as though there’s plenty of people in this world who don’t understand the true effect they may have on the things they say. In terms of ‘thinking-before-speaking,’ I believe that that is something we all barely acknowledge. Whenever you have something to criticize someone about. Whenever you have something to hate on someone about. Whatever it is that you have to say about any other person… Shouldn’t be said at all, unless you have something “nice” to say about them. I quoted the word ‘nice’ because, nice could be something totally positive, or something at least to show that you’re not putting someone down. What’s wrong these days is… people do not have enough decency to respect others. NOT ENOUGH. Whether they know them. Or whether they think they know them. No matter who they are.. they should not be the root of your hatred, jealousy, bitterness, or dissatisfaction. Because honestly, you have NO IDEA if what simple statement you may have to say, can hurt someone else so badly. Maybe it may be a little nothing to you.. but certainly, you may never know how someone else will perceive it. All that stupid, ridiculous talk you might have about someone is unnecessary. Leave all your insignificant comments to yourself. If I’ve learned anything about life, its that, nobody will be perfect.

But at least, if we all tried to show each other that we all have some respect for one another, maybe there’d be less people taking their own lives.

Less people hurting because of what others’ opinions have clouded in their minds. Less people feeling engulfed in a life that they no longer desire to posses. Just because of some kind of negative comment or insult they may have received. I think we all deserve to be treated right. I think we all deserve to love the life we have. But to some extent, we all need to quit the judging. Discriminating. The hate and spite. The grudges and the envy.  Because honestly, I don’t believe we take other’s feelings into consideration as much as we do of our own. And that’s so disgraceful to realize… That a great majority of our society portrays to be this way and we don’t do anything to change that. It’s repulsive. Well in my opinion it is.

why we don't treat people like we want to be treated? Stop saying you hate people or me (hehe), because you are only putting unnescesary negativity on yourself. Focus on yourself. Don’t mind people if they give off negative vibes. If you want people to change, you have to change also ;)

Jumat, 09 November 2012

Being Wise

“People are often unreasonable and self-centered. Forgive them anyway.
If you are kind, people may accuse you of ulterior motives. Be kind anyway.
If you are honest, people may cheat you. Be honest anyway.
If you find happiness, people may be jealous. Be happy anyway.
The good you do today may be forgotten tomorrow. Do good anyway.
Give the world the best you have and it may never be enough. Give your best anyway.
For you see, in the end, it is between you and God. It was never between you and them anyway” -Mother Teresa

enjoy your life by enjoying the present moment
although small children know how to make life fun adults often forget
many people pursue happiness in the future and miss the abundant simple pleasures in the present
find a dream and pursue it. discover what you really want and go after it. but avoid the path of least persistence
sincerely love people and treat them well
give people all the love and kindness that you have, love and kindness will come back to you

drop your regrets. live in the present, not int the past.
avoid self-tormenting language: "I should have...", "I could have...", "I wish I had...", "If only..."
learn to like yourself. people who feel good about themselves are the most positive and productive people in the world. they never waste time feeling sorry for themselves
lighten up and laugh. don't take things seriously like a fuddy-daddy, smiling and laughing will bring the best in you.
remember: people who enjoy life tend to be positive, productive, and successful :)

<3

Minggu, 07 Oktober 2012

Tahu Diri - Maudy Ayunda

hai selamat bertemu, lagi.. aku sudah lama menghindarimu sialku lah kau ada di sini sungguh tak mudah bagiku rasanya tak ingin bernafas lagi, tegak berdiri, di depanmu kini sakitnya menusuki jantung ini melawan cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri Tak selamanya berhasil Apabila kau muncul terus begini Tanpa pernah kita bisa bersama Pergilah, menghilang sajalah Lagi..
Hai selamat berpisah lagi Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada disini Sungguh tak mudah bagiku Menghentikan segala Khayalan gila jika kau ada Dan ku Cuma bisa meradang menjadi yang di sisimu Membenci nasibku yang tak berubah
Dan upayaku tahu diri Tak selamanya berhasil Apabila kau muncul terus begini Tanpa pernah kita bisa bersama Pergilah, menghilang sajalah Lagi.. Berkali kali kau berkata Kau cinta tapi tak bisa Berkali kali ku telah berjanji Menyerah…Dan upaya ku tahu diri Tak selamanya berhasil Dan upayaku tahu diri Tak selamanyaa berhasil Apabila kau muncul terus begini Tanpa pernah kita bisa bersama Pergilah (pergilah) Menghilang sajalah Pergilah (pergilah) Menghilang sajalah Pergilah Menghilang sajalah Lagi....

Kamis, 04 Oktober 2012

Simple Past

Kadang saya pengen balik ke masa lalu, lalu menonjok muka saya kenapa bisa-bisanya saya melakukan banyak hal bodoh (bahkan hingga sekarang). Lalu pada akhirnya setelah sibuk berandai-andai untuk kembali ke masa lalu, saya sibuk menertawakan diri saya sekeras-kerasnya bahkan kadang hingga meneteskan air mata.

Masa lalu. Semua orang pasti punya masa lalu. Tapi saya tidak tahu apakah masa lalu setiap manusia itu semua baik atau semua buruk. Bahkan saya rasa tiap orang pasti memiliki definisi masa lalu yang berbeda-beda pula. Bagi saya, masa lalu adalah suatu hal yang telah terjadi, mungkin kalo dalam bagian pelajaran tenses itu, masa lalu adalah past tense. Sudah dilakukan. Atau jangan-jangan memang itu definisinya, ntahlah, haha.

Selain untuk ditertawakan, ada beberapa bagian dari masa lalu yang bener-bener greget untuk diperbaiki. Saya kadang sampe mikir banget, gimana caranya saya bisa merubah masa lalu, biar sekarang saya ga menderita karena menyesal. Tapi, akhirnya ada bagian diri saya yang mencoba untuk merelakan hal-hal yang telah terjadi. Kalau saya bisa ngulang masa lalu dan memperbaikinya, terus saya belajarnya darimana?

Kadang juga saya mikir sebenarnya, Tuhan itu sudah kasih jalan ke kita, ada yang hanya satu, ada yang hanya dua, atau bahkan lebih dari itu. Kemudian kita memilih jalan tersebut, setelah memilih jalan tersebut, kita kembali dikasih pilihan jalan, begitu seterusnya. Mungkin kalau digambarkan akan membentuk akar. *mari berimajinasi sejenak* *sudah?* *lanjut* Jadi apapun pilihan yang kita ambil, itu akan selalu membawa pada jalan-jalan lainnya, kalau sudah begini buat apa disesali atas masa lalu yang telah terjadi (atau dipilih), toh memang sudah begitu jalannya, sudah begitu pilihan yang diambil.

Nah, akhirnya pada satu titik setelah puas menertawakan diri saya sepuas-puasnya, saya sampai pada pemikiran, saya memang tidak akan bisa kembali ke masa lalu - baik untuk menonjok muka saya habis-habisan karena telah berbuat hal bodoh ataupun meubah pilihan hidup saya sebelumnya - tapi saya bisa melakukan kontemplasi ulang, agar tidak salah melangkah lagi.

Nah (lagi), kadang lucunya, sesaat saya telah mengambil pilihan, lalu ternyata saya malah menyesalinya, lalu kemudian Tuhan (dengan baik hatinya) menunjukkan bahwa memang itulah jalan yang telah saya pilih, walau butuh waktu lama untuk merenungkan atau mengambil hikmah itu semua, ntah satu bulan, satu tahun, atau mungkin bertahun-tahun.

Saya masih tidak tahu jalan hidup saya selanjutnya akan kemana, banyak hal-hal bodoh yang telah saya lakukan (dan pilih) kemudian sekarang saya sibuk menertawakannya. Yang pasti saya percaya, saat ini saya menertawakan kebodohan saya, tapi suatu saat nanti saya akan tersenyum bahagia karena menyadari memang itulah baiknya.

Sekian. Dan terimakasih.

Kamis, 27 September 2012

27. Cukup.

"Belajarlah tuk melepaskan seseorang yg terus menyakitimu. Jika kamu berarti baginya, dia tak akan pernah biarkan kamu terluka." -pepatah.


apa rasanya mendengar lelakimu menceritakan segala kesibukannya seolah tidak ada waktu satu menitpun untuk mengabarimu, sementara kamu sendiri selalu mencoba untuk mengabari disela sela segala rutinitas kamu?

apa rasanya mendengar lelakimu mengantarkan teman perempuannya, berdua di depanmu, sementara kamu sendiri bahkan belum pernah diantar hanya berdua?

apa rasanya mendengar semua teman disekelilingmu dikabari dan diperhatiakan oleh lelakinya, sementara kamu bahkan tidak tahu sedang apa lelakimu?

kalau dunia memang panggung sandiwara, kamu seolah hanya semacam pemain figuran dalam drama kehidupan yang tengah dia mainkan. bagaimana rasanya?

kalau kehidupan seperti arena permainan sepak bola, kamu seolah hanya pemain cadangan yang diajak bermain ketika dibutuhkan, dan dibiarkan ketika pemain utama bisa bermain sempurna. bagaimana rasanya?

apa rasanya merasa tidak berarti apa-apa?

rasanya seperti ingin menyingkir dari permainan, duduk dibangku penonton, memperhatikan, mendoakan, dan ikut bersorak senang untuk setiap kemenangannya.
ya, mungkin kurang lebih begitu rasanya..

Hari ini aku sadar bahwa aku dan kamu telah memilih. Dan Abu- abu adalah warna yang kita pilih.
Abu-abu bukan warna yang bagus untuk kita. Abu-abu adalah ketika kita jauh dan tidak bisa menjaga warna masing-masing.
Abu-abu adalah aku yang lelah, menunggumu. menunggumu berubah seperti dulu.
kesalahan itu sudah terulang dan itu tandanya belum belajar kan? padahal kesalahan itu ada supaya kita belajar dan tak mengulanginya kan? kita bukan keledai, jadi tak perlu jatuh berkali-kali. tapi aku tetap mau mencoba kembali.
Maka biarkan abu-abu yang mengambil kuasanya. Biarkan ia menentukan warnanya, takdirnya.
Kepada kepergianmu, semoga kau temukan lagi warnamu.
Kepada kepergianmu, maafkan aku bila warnaku tak mampu lagi mengisi warnamu, menemanimu,
menunggumu.
Karena hari ini kita telah memilih. Dan Abu-Abu adalah warna yang kita pilih.

ini aku, yang hanya bisa bercerita padamu dengan cara ini. ya, menulis.
maaf untuk membuatmu selalu merasa kecewa dengan cara yang ini ini saja.
aku belum bisa melakukan yang lainnya. Ya, mungkin perempuan lain akan melakukannya.

Terimakasih untuk 191hari. 275040jam. 16502400menit dan 990144000detiknya, Ilham :)

Sabtu, 21 Juli 2012

Panasilah Makanan, Bukan Teman Anda

Hari pertama Ramadhan tahun ini saya banyak menghabiskan waktu untuk membaca ayat suci Al-Quran bersama Mamah saya. Selebihnya saya gunakan waktu untuk membaca buku (re:Novel, bukan buku pelajaran >.<) atau sekedar mengecek timeline di twitter dan meng-update status. Hari ini saya membaca (kembali) buku dengan cover Pink yang berjudul "Don't Sweat the Small Stuff for Women" karangan Kristine Carlson. dan saya tertarik untuk menuliskan salah satu isi buku tersebut yang menurut saya sangat berguna untuk diri saya dan mungkin untuk anda di 'zaman' sekarang ini (Nyahahaha bahasanya, tapi bener lho ^^) pada bab 11, halaman 27 buku Kristine Carlson ini menjelaskan tentang Judul dari postingan ini *liat judul diatas lagi* hohooo

oke, langsung aja...
begini isinya,
"Seorang 'pemanas' yang memanasi sesuatu selain makanan adalah seseorang yang membangkitkan topik-topik emosional yang sudah di bahas, di selesaikan, atau sedag dalam proses penuntasan. Ia ingin menyalakan bara emosi dan membiarkannya tetap hidup agar bisa merasakan sesuatu kekacauan suatu konflik, jauh melampaui batas membantu. Pemanas bisa bersikap sangat halus; mereka sering terlihat seperti teman yang 'membantu' atau pendengar yang 'peduli'.

Ini sebuah contoh: Teman Anda, Joyce, datang dnegan sebuah masalah; ia mengetahui suaminya berselingkuh. Ia sakit hati, dan bisa dimengerti kalau ia membutuhkan dukungan anda, jadi tentu saja, Anda membiarkan ia mencurahkan perasaannya. Bersama belalunya waktu, kalian sering berbicara tentang suaminya dan tentang betapa brengseknya pria itu. Lalu, berbulan-bulan kemudian, Joyce dan suaminya Bruce mengikuti konseling, mencoba membangun kembali perkawinan mereka dan rasa percaya Joyce. Terjadi sesuatu yang aneh: Suatu hari anda bertemu Joyce dan ia benar-benar tersenyum. Anda mulai menanyakan kondisi hubungannya dengan Bruce. Ia memberitahu Anda bahwa hubungan mereka sekarang lebih baik. Anda berkata: "Bagaimana mungkin kau bisa mempercayainya ketika dia meninggalkan rumah?" Dengan menanyakan hal itu, Anda menyebrangi batas dari seorang teman yang mendukung menjadi seorang pakar pemenas emosi.

Memanasi juga bisa mengambil bentuk jauh lebih halus. Bukan hanya mengungkit-ungkit masalah besar, seperti perselingkuhan. Memanasi terjadi setiap kali kita mendorong seseorang untuk mandek dalam suatu masalah yang sudah menjurus ke arah penyelesaian yang sehat. Seolah kita mengatakan. "Jagan kaulepaskan! Kenapa kau ingin melakukannya? Ini sangat menyenangkan!"

Anda baru saja melepaskan suatu konflik kecil dengan tetangga Anda, ketika tetangga Anda yang lain terus-menerus mengungkit tentang betapa mengesalkannya orang itu, mendorong Anda untuk tetap berkubang dalam perasaan kesal Anda. Hal serupa juga terjadi di kantor. Seorang rekan kerja tak hentinya mengingatkankan bahwa Andalah, Bukan Gail, yang benar-benar layak mendapatkan pernghargaan atas gagasan hebat itu. Setiap kali ia mengatakannya, perut Anda meregang dan luka Anda terbuka lagi.

Yang perlu Anda ketahui adalah cara mengenali seseorang pemanas, dan juga cara untuk tidak menjadi seorang pemanas, selain pemanas makanan. Ketika ada orang lan yang memanasi Anda, Lihatlah itu sebagai kebiasaan yang tidak bisa menyakiti Anda kecuali Anda terlibat dalam percakapan itu atau ikut menghidupkannya. Satu cara sederhana untuk melepaskan diri adalah dengan mengingat bahwa Anda sudah melepaskan masalah itu, dan dengan mengatakan kepada sang pemanas.

Tidak perlu diragukan bahwa godaan untuk menjadi pemanas memang ada. Bahkan, saya mengakui bahwa saya sendiri pernah beberapa kali memanasi sesuatu yang bukan makanan. Namun, ini menimbulkan kecemasan dan stres yang sebenarnya tidak perlu. Jadi, ingatkan diri Anda bahwa memanasi orang akan merusak kedamaian batin dan penyelesaian masalah Anda sendiri. Hal ini sama saja memilih terlalu matang memasak santapan malam Anda--yang Anda peroleh akhirnya hanyalah sup gosong!"

Tulisan dari tanda kutip Bold awal sampai tanda kutip Bold yang terakhir tidak ada yang saya tambahkan atau kurangkan sedikitpun, begitulah isi dari bab 11 hal 27 buku tersebut. Sangat bermanfaat menurut saya (semoga) untuk yang membaca postingan ini juga, Kamu! ^^

Selamat menjalankan ibadah puasa, enjoy your beautiful life that you have and said Thanks to God :) remember: DON'T BE EVIL! ;)
Widiya Ningrum. Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

AmazingCounters.com

Instagram Shots


Instagram

Tumbler