Rabu, 18 Juli 2012

Kisah Sang Penari

Sebuah kisah untuk lelaki yang saya sayangi, Ilham Gumilang Syafei yang tampaknya sedang begitu khawatir dengan perkataan dan pikiran orang lain terhadapnya.

Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan kepadanya.

Suatu hari, kotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari.

Si gadis muda bertanya,

“Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah Anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya”.

“Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit,” jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis langsung berlari keluar. Pulang ke rumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar.

Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab.

Si ibu bertanya,

“Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga Anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?”

“Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari dunia tari,” jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar.

“Ini tidak adil,” seru si ibu muda.

“Sikap Anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa Anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!”

Si pakar menjawab lagi dengan tenang,

“Tidak… tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton Anda 10 menit untuk membuktikan tarian Anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan Anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap Anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi Anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu Anda camkan, bahwa Anda mestinya fokus pada impian Anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya. Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. Pujian itu seperti pedang bermata dua. Ada kalanya memotivasimu, bisa pula melemahkanmu. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar pujian yang diberikan pada saat seseorang sedang bertumbuh hanya akan membuat dirinya puas dan pertumbuhannya berhenti. Saya justru lebih suka mengacuhkanmu, agar hal itu bisa melecutmu bertumbuh lebih cepat lagi. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. Tidak pantas Anda meminta pujian dari orang lain.”

“Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya Anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini Anda sudah menjadi penari kelas dunia. Mungkin Anda sakit hati pada waktu itu, tapi sakit hati Anda akan cepat hilang begitu Anda berlatih kembali. Tapi sakit hati karena penyesalan Anda hari ini tidak akan pernah bisa hilang selama-lamanya…”

Sayanng, Kita sendiri lah yang bertanggung jawab menumbuhkan rasa percaya diri, bukan orang lain, bukan siapa-siapa. Lebih baik sakit hati hari ini daripada datang penyesalan nanti. Tidak minder terhadap kualitas diri sendiri adalah modal dasar bagi perkembangan diri seseorang. Kamu memang tidak akan sekreatif orang lain karena kamu adalah pribadi yang unik. Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau karena yang kamu lakukan adalah membandingkan kekurangan diri kamu dengan kelebihan orang lain. Lakukan apa pun yang kamu merasa mampu, dan jadilah hebat, sehebat-hebatnya diri sendiri :'D

Caranya adalah dengan mengubah perspektif kamu dalam memandang masalah. Dari penjelasan kamu, yang kamu lakukan selama ini bukanlah fight, tetapi flight, kabur begitu saja dan mengkerdilkan diri kamu sendiri. Mulai sekarang, jika kamu ingin fight, fight lah. Dengan menghadapinya, bukan menyia-nyiakannya. Dengan menganggapnya tantangan, bukan halangan. Renungkan ini: Musuh terbesarku, pesaing terbesarku adalah diriku sendiri. Diriku yang selalu menurunkan target-targetku, yang selalu mengecilkan diriku sendiri, yang selalu merendahkan cita-citaku, maka akhirnya aku benar-benar hanya mengejar target-target yang lebih rendah.

Tanda-tanda seseorang ingin sukses adalah selalu bangkit di saat terjatuh dan selalu memiliki banyak cara untuk menciptakan masa depannya sendiri. Tidak peduli seberapa menderitanya dia, tidak peduli seberapa down-nya dia, jika dia memang tangguh, dia pasti bangun. Entah dengan kekuatan sendiri, atau dengan dukungan dari lingkungannya, termasuk Aku. Sayang, nonsense dengan keberhasilan orang lain. Kita hidup di dunia ini untuk bangkit mengalahkan diri sendiri, bukan untuk mengalahkan orang lain. Masing-masing dari kita memang saling berlari, tetapi di jalur kita masing-masing :)

-16

Minggu, 15 Juli 2012

Long Distance Relationship Video


me : *crying out loud.....*

Senin, 28 Mei 2012

semangat Widih! :)

Bukan lagi waktunya memikirkan hal seperti ini. Harusnya hari-hari sudah dipenuhi dengan rumus, latihan soal, dan target terstruktur tentang masa depan. Harusnya waktu bukan lagi dihabiskan untuk melamunkan hal-hal yang mengesalkan ini. Tapi digunakan untuk menalar soal-soal yang rumit. Soal-soal yang akan menjadi kunci pintu gerbang cita-cita yang sudah diimpikan sejak dulu. Bukan lagi menghabiskan waktu untuk mengecam orang-orang yang sudah merusak hari. Tapi mengubur semua masalah dan fokus untuk satu hal itu. Bukan waktunya mengobrolkan orang-orang, tentang ketidaksukaan dan rasa kesal. Kelas XI itu dasar untuk kelas XII. Jangan mengalah dengan ego, dengan masa lalu, dengan diri sendiri, apalagi dengan orang lain. Kalau mau bahagia, dan mau meraih mimpi, kita harus fokus, harus memberikan yang terbaik, harus serius, menyingkirkan hal-hal tidak penting yang menggerogoti lahan yang harusnya dipakai untuk menghafal mati pelajaran. Menuliskan ini memang mudah. Namun ternyata realisasinya tidak semudah itu juga. Bismillah.


but I Promise Mom Dad, someday i'll make you proud of me. I Promise :')


Selasa, 22 Mei 2012

:(


I just don’t get it. I always try to be nice to people, even when they give me plenty of reasons not to. I know I’m not perfect, but I try to make up for that, and I’m not intentionally bitchy(re:jutek/judes). (remberber,i'm not intentionally) :') *perlu kalian tau. saya sadar muka saya kalau diem jutek, makanya saya suka cengengesan sendiri. Cuma mungkin masih tetep aja juteknya nyisa. maaf :|*

So why am I always the person that gets bullied and/or ostracized like I’m the one who made mistakes? :'''''

Selasa, 01 Mei 2012

salah


perasaan ini salah. harusnya saya gaperlu cemburu sama orang yang bahkan bukan milik saya. dia bebas melakukan apa yang mau dia lakukan. dia bebas berhubungan dengan siapapun yang mau dia hubungi. saya bukan siapa siapanya dia. saya yang salah, harusnya saya gaperlu cemburu kaya gini. kaya anak kecil aja...
untuk ke-childish-an saya ini saya minta maaf. lain kali saya akan mencoba untuk tidak memperdulikannya. saya janji akan berusaha untuk terbiasa dengan sifat kamu yang satu itu. apapun yang kamu lakukan dengan siapapun kamu berhubungan, saya tidak akan pernah cemburu lagi.. maaf untuk saya yang masih belum bisa bersikap biasa. maaf untuk tidak mengabarimu malam ini. untuk semua kesalahan saya. saya minta maaf.

setiap orang punya sisi kekanakan, 
dan saya sedang berada di sisi itu sekarang. 
saya ga minta kamu buat ngerti dan saya ga akan pernah meminta kamu untuk ini itu. 
saya yang akan mencoba membiasakan diri.
membiasakan hati untuk ngga mudah cemburu lagi. dan saya yakin saya bisa :"D

menerima lebih sulit daripada mengerti.

malem ini ada seorang teman saya yang curhat karena diputusin sama pacarnya.
oke, kira-kira begini percakapan antara saya sama teman saya di bbm :

Dia : tapi saya gabisa terima Wid, sakit bgt diginiin
Saya : kan saya sering bilang accepting is much harder than understanding. kamu harus belajar buat menerima.
Dia : menerima bahwa saya ditembak cm buat diputusin?
Saya : Iya! *kemudian hening*

lalu saya kirim beberapa kalimat untuk membuat teman saya itu lebih tenang... (mungkin)
kira - kira begini kalimatnya :

' yang paling sulit adalah menerima…
Menerima bahwa kita dihidupkan untuk dimatikan…
Menerima bahwa kita dipertemukan untuk dipisahkan…
Menerima bahwa kita diberi untuk diambil lagi…
Maka belajarlah untuk menerima… 
Apapun…'


lalu teman saya membalas chat saya dengan balasan seperti ini :
' dan sampai kapanpun saya ga akan bisa terima'


sayapun akhirnya memutuskan tidak menjawab chatnya. itu pilihan nya. saya tidak bisa

Sabtu, 14 April 2012

him

awalnya...

sapaan paling 'sopan' :/
orang tengil kayak gini harus di kerjain dulu, pura pura lupa kayaknya cocok (--,)


dia bilang saya tengil, lalu dia apa? -_-
tapi.. walaupun udah dibikin kesel, besoknya........

the first morning greeting
guess what? 
he's call me 'Mata Belook' :p
dia tau mata saya belo, apa dia sering liat foto foto saya?
 Ah, Ngga mungkin, orang kaya dia bisa stalking-_-
Oh ya, entah kenapa semenjak pertama kali dia telfon di hari kedua,
perasaan ini ada yang beda,


waktu dia harus kembali ke asrama
ini komen pertamanya waktu saya bales panjang smsnya :p
waktu lagi berantem, boongan padahal (--,)
jujurnya {}
Maaf emang anaknya males bales chat^^
Ham, It's for me? :'D
AHAHAHAKKK :3
*balesnya singkat* atau *gadibales aja* sekalian :P
Awas aja ntar kalo protes, bukti ini bukti :p
sweet plan :'>
walaupun sms sebelumnya, he still send me morning greetings. i like it ^^
jujurnya {} ^^
masih ngucapin selamat tidur meski gak dibales chat sebelumnya :"
udah mulai berani bilang kangen, yang pertama ini :">>
see? another morning greetings..
finally you make me love you Ham <3
kata 'LOVE' yang pertama :'''''')

at facebook message, when he at boarding school..

Finally, I said 'I Love You Too' in the last chat :'D♥{}

at facebook chat! finally..... i said that word <3

☮☮☮

Apa harus ada alasan untuk menyayangi seseorang? Dia muncul sangat tiba-tiba. Di kepala dan hati saya. Dan kali ini, saya tidak ingin berlari, saya stay, membiarkan dia menyita ruang ruang yang memang benar benar kosong . Namanya, Ilham G S . Terima kasih sudah membuat saya merasakan banyak kupu-kupu di perut hihi

Apakah saya (masih) takut pacaran? YES I DO !! Tapi, saya mohon, biarkan saya berproses, sendiri, menikmati perang antara ketakutan ketakutan dan perasaan sayang saya. I’m so sorry for my self, really !


satu pertanyaan saja, bisa kau jawab?



Widiya Ningrum. Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

AmazingCounters.com

Instagram Shots


Instagram

Tumbler